Asta Cita di Persimpangan: Ketika Stabilitas Ekonomi Dibayar Mahal Oleh Alam, Pangan, dan Keselamatan Publik

Indonesia hari ini tampak stabil di permukaan. Pertumbuhan ekonomi 2025 masih bertahan di kisaran 5 persen, inflasi relatif rendah, kemiskinan menurun menjadi sekitar 8,47 persen, dan pengangguran turun ke 4,85 persen. Angka-angka ini memberi kesan bahwa pemerintahan Prabowo – Gibran sedang melaju di jalur yang benar menuju Asta Cita, delapan misi besar pembangunan nasional.

Namun di balik stabilitas itu, akumulasi persoalan mendasar terus menumpuk. Dari hutan yang terus menyusut, sampah yang menggunung, energi bersih yang tertinggal, hingga banjir, rob, dan keracunan massal siswa. Asta Cita tidak sedang gagal, tetapi sedang diuji keras oleh realitas ekologis, tata kelola, dan kualitas implementasi kebijakan.

Asta Cita 1 – Demokrasi dan Tata Kelola: Stabil, tapi Rentan Legitimasinya

Stabilitas politik pascapemilu memang terjaga. Namun legitimasi kebijakan tidak hanya ditentukan oleh kekuasaan formal, melainkan oleh kepercayaan publik. Ketika program nasional berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis mengalami kegagalan di lapangan, yang dipertaruhkan bukan sekadar teknis, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap negara sebagai penyedia layanan dasar.

Asta Cita 2 – Pangan: Swasembada di Atas Kertas, Ketahanan di Lapangan Dipukul Cuaca

Produksi pangan nasional meningkat, cadangan beras diperkuat, dan impor ditekan. Namun 98,97 persen bencana di Indonesia sepanjang 2025 adalah bencana hidrometeorologi: banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Dampaknya langsung ke sawah, distribusi, dan harga. Swasembada pangan menjadi rapuh ketika sawah terendam, jalur logistik terputus, dan petani kehilangan panen dalam hitungan jam. Ketahanan pangan hari ini tidak bisa dilepaskan dari ketahanan iklim dan di titik inilah kebijakan masih tertinggal.

Asta Cita 3 – Energi dan Air: Target Hijau yang Jalan di Tempat

Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan 23 persen, tetapi realisasi 2025 masih sekitar 16 persen. Artinya, ketergantungan pada energi fosil masih dominan, sementara krisis iklim terus memukul.
Di sisi air, ancamannya nyata dan kasatmata. Rob di pesisir Jawa dari Semarang hingga Jakarta bukan lagi peristiwa musiman, tetapi kondisi kronis. Di Sayung, Demak, banjir rob telah berlangsung puluhan tahun dan kini menembus jalan nasional. Di Jakarta, tanggul dan sistem drainase berulang kali kalah oleh pasang laut dan hujan ekstrem. Ketahanan air dan kota pesisir kini menjadi soal keamanan nasional, bukan sekadar infrastruktur.

Asta Cita 4 – Pertumbuhan Ekonomi: Angka Baik, Ketahanan Sosial Rapuh

Pertumbuhan 5 persen memang menenangkan pasar, tetapi belum sepenuhnya menenangkan rumah tangga. 23,85 juta orang masih hidup dalam kemiskinan, dan jutaan lainnya berada tepat di atas garis kemiskinan sangat rentan jatuh kembali ketika banjir datang, harga pangan melonjak, atau pekerjaan informal terhenti. Tantangan terbesar Asta Cita di sektor ekonomi bukan sekadar menumbuhkan PDB, tetapi membuat pertumbuhan tahan terhadap guncangan iklim dan bencana.

Asta Cita 5 – Industrialisasi dan Hilirisasi: Nilai Tambah vs Harga Lingkungan

Hilirisasi digadang sebagai mesin baru pertumbuhan. Namun data kehutanan menunjukkan deforestasi netto 2024 masih 175,4 ribu hektare. Pembukaan lahan untuk tambang, perkebunan, dan proyek infrastruktur mempercepat degradasi lingkungan. Ketika hujan ekstrem datang, hutan yang hilang tak lagi mampu menahan air dan bencana pun membayar “tagihan lingkungan” yang selama ini diabaikan. Industrialisasi tanpa rem ekologis berisiko menciptakan pertumbuhan yang mahal secara sosial.

Baca Juga  APBN-Driven Growth: Kenapa Indonesia Sulit Lepas dari Jebakan 5%?

Asta Cita 6 – Pemerataan dan UMKM: Bertumbuh di Tengah Lingkungan yang Memburuk

UMKM didorong naik kelas melalui kredit dan digitalisasi. Namun di banyak daerah, pelaku usaha kecil hidup berdampingan dengan krisis sampah. Timbulan sampah nasional mencapai 38,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas pengelolaan tertinggal. Sungai tersumbat, TPA penuh, dan biaya kesehatan lingkungan meningkat. Pemerataan ekonomi sulit tercapai jika kualitas lingkungan tempat masyarakat hidup terus menurun.

Asta Cita 7 – Ekonomi Digital dan SDM: Cepat, tapi Tidak Merata

Ekonomi digital tumbuh pesat, tetapi kesenjangan akses dan literasi masih lebar. Di saat kota besar menikmati layanan digital, wilayah rentan masih bergulat dengan konektivitas, pendidikan, dan layanan dasar. Digitalisasi tanpa pemerataan berisiko menciptakan ketimpangan generasi dan wilayah yang baru.

Asta Cita 8 – Pertahanan dan Stabilitas: Ancaman Datang dari Air dan Langit

Pertahanan nasional tidak lagi hanya soal senjata. Banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan rob kini mengancam keselamatan manusia, ekonomi, dan stabilitas sosial. Ketika ribuan bencana terjadi dalam setahun, maka ketahanan nasional diuji bukan di medan perang, tetapi di dapur rumah tangga, ruang kelas, dan jalan raya yang terendam.

MBG. Mungkin Program Simbolik yang Harus Naik Kelas

Makan Bergizi Gratis adalah kebijakan paling populis sekaligus paling berisiko. Program ini telah menjangkau puluhan juta penerima, tetapi juga mencatat ribuan kasus keracunan siswa. Ini bukan sekadar kesalahan dapur, melainkan alarm keras tentang keamanan pangan, standar higienitas, dan tata kelola rantai pasok. Ditambah lagi, laporan sisa makanan menunjukkan potensi pemborosan jika desain dan pengawasan tidak diperbaiki. Program besar tanpa kontrol ketat bisa berubah dari solusi menjadi masalah baru.

Asta Cita bukan gagal, tetapi belum aman. Stabilitas ekonomi Indonesia hari ini berdiri di atas fondasi yang masih rapuh oleh tekanan lingkungan, iklim, dan kualitas implementasi kebijakan. Tantangan terbesar pemerintahan Prabowo – Gibran bukan lagi merancang visi, melainkan menutup jurang antara ambisi besar dan realitas di lapangan.

Jika persoalan-persoalan ini ditangani serius berbasis data, disiplin pengawasan, dan keberanian politik Asta Cita bisa menjadi jalan transformasi. Jika tidak, Indonesia akan terus tampak stabil di angka, tetapi rapuh dalam kehidupan nyata warganya. (Ed: Olan)

Penulis